Kekeringan Hambat Pemadaman Karhutla di Kaltim, BPBD Cari Alternatif Sumber Air

Oleh Redaksi+ pada 27 Agu 2026, 22:16 WIB

Musim kemarau mulai memberikan dampak terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur. Petugas di lapangan tidak hanya menghadapi kondisi lokasi kebakaran yang sulit dijangkau, tetapi juga kesulitan mendapatkan air untuk mendukung proses pemadaman.

Kepala Pelaksana BPBD Kalimantan Timur, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan persoalan sumber air menjadi salah satu kendala yang cukup serius dalam penanganan kebakaran saat kondisi kering berlangsung.

Ia mencontohkan kondisi di kawasan Pendingin. Wilayah yang biasanya memiliki rawa dengan genangan air cukup tinggi kini mengalami kekeringan sehingga tidak lagi mudah dimanfaatkan sebagai sumber air untuk pemadaman.

“Betul sekali. Sumber air ini salah satu persoalan. Apalagi seperti di Pendingin, kalau kondisi normal di sana itu rawa dan air bisa setengah badan. Sedangkan sekarang lagi kekeringan,” ujar Buyung, Kamis (27/8/2026).

Menurutnya, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian tidak hanya ketika kebakaran terjadi. Pemerintah daerah perlu menyiapkan sumber air yang dapat digunakan petugas ketika memasuki periode kemarau.

Salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan adalah membangun sumur dalam atau deep well di kawasan yang rawan mengalami kebakaran. Infrastruktur tersebut dinilai perlu disiapkan sebelum kondisi darurat agar dapat langsung dimanfaatkan ketika sumber air permukaan mulai mengering.

“Kalau musim hujan tiga meter saja dapat. Nah, ini benar-benar kalau musim kering kayak gini, jangka panjang, ya sudah pas musim kering gali dapat 100 meter atau tidak,” katanya.

Selain sumber air permanen, BPBD Kaltim juga mengusulkan penambahan tangki air. Sarana tersebut diperlukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air ketika lokasi kebakaran berada jauh dari sumber air yang masih tersedia.

Buyung mengatakan usulan pengadaan tangki air akan disampaikan kepada pemerintah. Namun, keputusan mengenai realisasi pengadaan tetap berada di tingkat pimpinan dan harus disesuaikan dengan kemampuan anggaran.

“Saat ini karena bekerja sama dengan Basarnas, kami menggunakan peralatan yang ada saja. Makanya, kami mengusulkan untuk penyediaan termasuk tangki tadi. Karena memang diperlukan. Tapi ya keputusan kan di pimpinan,” jelasnya.

Keterbatasan sumber air membuat penanganan karhutla membutuhkan persiapan lebih besar. Petugas harus mempertimbangkan jarak menuju sumber air, akses ke lokasi kebakaran, serta kebutuhan air selama proses pemadaman berlangsung.

BPBD Kaltim menilai penguatan sarana pendukung perlu dilakukan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau. Penyediaan sumber air permanen maupun tangki air di lokasi strategis diharapkan dapat membantu mempercepat respons apabila kebakaran kembali terjadi.

Dengan kondisi cuaca yang kering, kesiapan tersebut menjadi penting untuk mengantisipasi meluasnya karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan Timur. (Red)

Tinggalkan Komentar