Gubernur Harum Minta Dukungan Menteri Lingkungan Hidup untuk Penanganan Banjir Kaltim

Oleh Redaksi+ pada 04 Jul 2025, 01:06 WIB

Perjuangan Gubernur Kalimantan Timur, Dr. H Rudy Mas’ud (Harum), untuk rakyat Benua Etam terus bergulir. Setelah memperjuangkan perbaikan jalan nasional ke Kementerian Pekerjaan Umum, kali ini Gubernur Harum mengalihkan fokus pada penanganan banjir yang kerap melanda wilayah Kaltim.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq bersama Gubernur Harum dan Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, juga melakukan peninjauan alur Sungai Pela dan muara Danau Semayang sebelum bertatap muka dengan warga. Peninjauan ini menjadi langkah awal untuk merumuskan dukungan konkret terhadap upaya pengendalian banjir dan pelestarian lingkungan di wilayah Kutai Kartanegara dan sekitarnya.

Dalam kunjungan kerja Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, ke Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kamis 3 juli 2025, Gubernur Harum menyampaikan langsung permohonan dukungan untuk menangani persoalan banjir di berbagai wilayah Kaltim.

“Beberapa daerah di Kaltim rawan banjir, Pak Menteri. Banjir di hulu bisa dengan cepat menenggelamkan desa-desa pesisir Sungai Mahakam seperti di Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Mahakam Ulu,” ungkap Gubernur Harum.

Ia juga menyoroti kondisi Samarinda, ibu kota provinsi, yang menjadi langganan banjir setiap musim hujan. Salah satu penyebab utamanya adalah tidak dilakukannya normalisasi Sungai Mahakam selama hampir 20 tahun.

“Hingga hari ini, still water level Sungai Mahakam hanya sekitar 4 meter. Jika 10 juta meter kubik air tidak bisa disalurkan dengan baik, ini bisa jadi bencana,” jelasnya.

Gubernur Harum pun berharap Menteri Hanif bisa memfasilitasi normalisasi Sungai Mahakam agar bencana banjir tidak semakin meluas dan merugikan masyarakat.

Senada dengan Gubernur Harum, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pela, Alimin, juga menyampaikan urgensi dukungan pemerintah terhadap upaya pelestarian lingkungan dan pengendalian banjir. Ia menyebut bahwa Danau Semayang, yang berada di sekitar desa mereka, mampu menampung hingga 10 miliar meter kubik air banjir dari hulu Mahakam.

“Kalau air Danau Semayang ini dilepas ke Sungai Mahakam tanpa pengelolaan, bisa menenggelamkan Kota Bangun, Muara Kaman, Tenggarong, bahkan Samarinda,” ujar Alimin.

Ia menekankan pentingnya menjaga tiga danau besar di kawasan tersebut—Danau Semayang (13.000 ha), Danau Jempang (15.000 ha), dan Danau Melintang (11.000 ha)—sebagai tampungan alami sekaligus habitat Pesut Mahakam.

“Kalau danau ini habis, maka pesut juga akan habis. Komitmen kami warga Desa Pela adalah melindungi danau dan pesut,” tegasnya.

Alimin juga mengungkap bahwa Desa Pela kini memiliki Peraturan Desa (Perdes) tentang Illegal Fishing dan telah menerima sejumlah penghargaan, termasuk Kalpataru 2024 sebagai Penyelamat Lingkungan. (sul/her/adpimprovkaltim/ky).

Tinggalkan Komentar