Produk Kriya Kayu Ulin Daur Ulang Berkelas Internasional, Berau Berhasil Curi Perhatian

Kabupaten Berau berhasil mencuri perhatian pada pembukaan pameran “UMKM Festival 2025” yang digelar di Convention Hall Gelora Kadrie Oening, Kota Samarinda, Senin 7 Juli 2025.
Festival UMKM kali ini diikuti oleh 74 tenant, terdiri dari 60 tenant kuliner, 8 tenant fesyen, dan 6 tenant kriya lainnya, termasuk berbagai kabupaten/kota di Provinsi Kaltim.
Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-53 dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) X PKK Tahun 2025, yang dibuka langsung oleh Ketua Umum TP PKK Pusat, Ny. Tri Tito Karnavian, dan Ketua TP PKK Kaltim, Ny. Sarifah Suraidah Harum.
Melalui stan TP PKK Kabupaten Berau, daerah ini menyampaikan pesan kuat tentang potensi limbah sebagai sumber ekonomi bernilai tinggi.
Pesan tersebut diwujudkan melalui produk kriya berbahan dasar kayu ulin daur ulang, yang menjadi unggulan utama Kabupaten Berau dalam pameran ini.
Produk-produk yang dipamerkan meliputi cobekan, gelas, teko, baki, dan satu set perlengkapan rumah tangga lainnya.
Seluruhnya dibuat dari potongan kayu ulin bekas yang sudah tidak terpakai, kemudian diolah ulang oleh para pengrajin lokal Berau.
“Ini produk unggulan kami. Kayu ulin yang kami gunakan juga bukan hasil penebangan, melainkan sisa-sisa kayu tidak terpakai yang kemudian kami olah menjadi barang-barang rumah tangga bernilai tinggi,” jelas Ketua TP PKK Kabupaten Berau Sri Aslinda Gamalis.
Tak hanya diminati di pasar lokal, produk-produk dari kayu ulin daur ulang ini telah berhasil menembus pasar internasional. Buktinya, peminat datang dari berbagai negara seperti Ceko, London, dan Malaysia.
“Produk ini sudah ekspor, permintaan datang dari luar negeri karena keunikan bahan dan nilai historisnya. Ulin merupakan kayu khas Kalimantan yang dikenal kuat dan tahan lama. Kami kreasikan ulang tanpa harus menebang pohon baru,” terang Sri Aslinda Gamalis.
Berau hadir dengan semangat daur ulang dan kepedulian lingkungan melalui inovasi UMKM berbahan kayu ulin bekas.
Inisiatif ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, tetapi juga mencerminkan komitmen terhadap pelestarian alam.
Limbah dimanfaatkan menjadi barang bernilai tinggi tanpa harus merusak lingkungan atau menebang pohon baru.
“Harapan kami, produk-produk ini terus berkembang dan membuka peluang pasar yang lebih luas. Bukan hanya untuk ekonomi keluarga, tapi juga membawa nama daerah ke kancah nasional bahkan internasional,” pungkasnya.
(Prb/ty/portalkaltim/ls)
