SIPERMATA, Inovasi Kota Balikpapan Satukan Ruang Publik dan Ekonomi Kreatif
Kepala Disparpora Kota Balikpapan, Ratih Kusuma. (Nusplus)
NUSANTARAPLUS, BALIKPAPAN – Di bawah rindangnya pepohonan Taman Bekapai, jantung Kota Balikpapan yang tak pernah benar-benar sepi, sebuah gagasan pelan-pelan menjelma jadi gerakan.
Nama gagasan itu bernama Sinergi Pemberdayaan Masyarakat Kreatif dalam Pengembangan Pariwisata Balikpapan disingkat SIPERMATA.
Inovasi milik Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kota Balikpapan ini baru saja terpilih dalam penjaringan Inovasi Kreativitas Pelayanan Perangkat Daerah Provinsi Kalimantan Timur.
Pada Rabu (19/11/2025), di kantor Dinas Pariwisata, Kepala Disparpora Kota Balikpapan Ratih Kusuma menjelaskan bagaimana SIPERMATA lahir sejak tahun 2023 dan terus berjalan hingga sekarang.
“Sipermata sinergi pemberdayaan masyarakat kreatif dalam pengembangan pariwisata Balikpapan,” ujarnya. Di balik istilah teknokratis itu, ada ambisi sederhana tapi besar: menjadikan kota ini lebih hidup dan lebih layak dihuni. Tanpa meninggalkan identitas religiusnya sebagai Madinatul Iman.
Salah satu wajah paling nyata SIPERMATA ada di Taman Bekapai, ruang terbuka hijau di pusat kota yang kini bukan sekadar tempat orang lewat atau duduk sebentar.
Taman ini disulap menjadi destinasi wisata sekaligus ruang kreatif warga.
Di sini, ide lokal tak hanya dipamerkan, tapi dirajut agar terkoneksi dengan peluang pariwisata: dari panggung seni, bazar kuliner, hingga ruang kolaborasi ekonomi kreatif.
Ratih menyebut SIPERMATA sebagai “ruang bersama” yang menghubungkan kreativitas warga dengan arus wisata yang terus mengalir ke Balikpapan.
“Kita ingin menjadikan ide-ide lokal tumbuh, terlihat, dan berdampak melalui kolaborasi pengembangan talenta dan promosi yang lebih modern dan terbuka,” imbuhnya.
Narasi ini terasa kian relevan sejak penetapan Ibu Kota Negara Nusantara di Kalimantan Timur yang otomatis menempatkan Balikpapan sebagai mitra kerja strategis.
Arus penduduk yang meningkat, lapangan kerja baru, serta maraknya gelaran event menjadi tekanan sekaligus peluang. SIPERMATA mencoba menjawabnya lewat sinergitas pentaheliks: pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media dirangkul dalam satu ekosistem.
Dari sinergi ini lahir promosi kreatif event pariwisata dan wadah ekspresi bagi pelaku ekonomi kreatif yang sebelumnya tersebar tanpa simpul.
“Sipermata semua terwujud dalam sinergitas lintas sektor,” tegas Ratih.
Tak hanya konsep, SIPERMATA juga mengunci pijakan hukum dan pengakuan.
Program ini telah mengantongi Hak Cipta pada 2024 dan kawasan Taman Bekapai yang menjadi salah satu sentra kegiatan ditetapkan sebagai wisata halal di tahun yang sama.
Berbagai event internasional, nasional, dan daerah yang dihelat di taman itu menjadi etalase keberhasilan pengelolaan ruang publik.
Mulai sport tourism, wisata kuliner, wisata belanja, hingga wisata edukasi, semua dicoba dirangkum di satu titik. Dampaknya merembet ke deretan penghargaan yang mampir ke Balikpapan.
SIPERMATA diklaim memberi kontribusi pada capaian Panji Pembangunan Pariwisata dan Arindama Kalimantan Timur, Asean Clean Tourism Award.
Lalu Wonderful Indonesia Award, predikat Kota Kreatif Indonesia, nominasi International Creative Cities Network, Balikpapan Kota Sehat, Balikpapan Kota Layak Anak, hingga Adipura Kencana Kota Besar.
Daftar panjang itu belum tentu mudah dicerna warga, tapi di Taman Bekapai, prestasi itu hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: ruang yang nyaman untuk berkegiatan.
Di penghujung wawancara, Ratih merangkum arah besar program ini, yakni mewujudkan Balikpapan sebagai kota terkemuka, nyaman dihuni, modern.
Serta sejahtera dalam bingkai Madinatul Iman, sekaligus kota meeting, incentive, convention, exhibition (MICE), wisata, dan kota kreatif.
“Taman Bekapai ini kami jadikan wadah partisipasi masyarakat dan seluruh pelaku ekonomi kreatif untuk berkreativitas dan berwisata,” katanya.
Di tengah hiruk-pikuk menuju Ibu Kota Negara, SIPERMATA berusaha memastikan satu hal: warga tetap punya ruang untuk tumbuh bersama kotanya. (Jun/Red/ ADV)
