Disporapar: 259 Karya Masuk Balikpapan Film Festival 2025, Kota Minyak Bisa Jadi Pusat Ekraf
Kepala Disporapar Balikpapan, Ratih Kusuma, dukung penuh BSF 2025. (Nusplus)
NUSANTARAPLUS, BALIKPAPAN – Partisipasi sineas nasional dalam Balikpapan Film Festival (BFF) 2025 meningkat signifikan.
Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disporapar) Kota Balikpapan mencatat sebanyak 259 film dari 92 kota/kabupaten di Indonesia masuk dalam seleksi tahun ini.
Data ini dinilai menunjukkan semakin luasnya minat pelaku film terhadap perkembangan industri kreatif di Kota Balikpapan.
Kepala Disporapar Balikpapan, Ratih Kusuma, mengatakan bahwa BFF telah menjadi kegiatan tahunan yang berfungsi sebagai ruang pertemuan dan evaluasi perkembangan perfilman daerah.
Ia menjelaskan perhelatan festival tahun ini tetap mengikuti pola yang telah berjalan sejak pertama kali digelar tahun 2017.
“Balikpapan Film Festival menjadi tempat bertemunya sineas, produser, sutradara, editor, aktor, dan penikmat film dari berbagai latar belakang,” ujar Ratih, Minggu.
Mereka, lanjut Ratih, berbagi pengalaman dan memperluas jaringan di industri film.
Ia menyebut, pendaftaran karya dibuka sejak 8 September hingga 12 September 2025. Setelah masa pendaftaran, proses penjurian dilaksanakan pada 14-19 September 2025 tim kurator independen.
Tahapan itu menjadi bagian dari penilaian teknis, tematik, dan kreativitas para peserta sebelum karya dipilih masuk ke daftar official selection.
Rangkaian publik festival berlangsung pada Sabtu 22 November 2025, terdiri dari screening film, diskusi film pendek, temu komunitas kreatif, serta malam anugerah.
Kegiatan berlangsung di Gedung Kesenian Balikpapan dan dapat diakses masyarakat secara gratis.
Ratih menjelaskan bahwa peningkatan jumlah peserta tidak hanya menggambarkan antusiasme sineas, tetapi juga membantu Disporapar memetakan kondisi ekosistem film di Balikpapan.
Menurutnya, karya yang masuk setiap tahun menjadi indikator perkembangan kualitas produksi film lokal, baik dari sisi teknis, narasi, maupun tema.
“Festival seperti ini membantu melihat perkembangan dari tahun ke tahun, termasuk standar teknis, gaya bercerita, hingga kemampuan produksi sineas Balikpapan dan daerah lain,” ucal Ratih.
Dengan banyaknya peserta dari berbagai provinsi, Balikpapan mulai menjadi titik temu bagi komunitas film nasional. Hal ini diperkuat kehadiran juri dan peserta dari luar Kalimantan Timur, yang membuka ruang pertukaran pengalaman serta pengetahuan produksi.
Ratih mengungkapkan bahwa keberlanjutan festival tidak lepas dari dukungan komunitas kreatif, lembaga pendidikan, serta mitra industri di Balikpapan.
Integrasi lintas sektor tersebut diharapkan memperkuat fondasi pelaku kreatif lokal, terutama bagi sineas muda.
“Kami terus mendorong kolaborasi antara komunitas film, lembaga pendidikan, dan mitra industri agar pembinaan berjalan berkelanjutan,” imbuhnya.
Bagi Ratuh, penguatan jaringan distribusi juga menjadi agenda penting agar film-film yang diproduksi di Balikpapan dapat menjangkau penonton yang lebih luas.
Dengan begitu, lanjutnya, karya lokal dapat bersaing di tingkat regional maupun nasional.
Malam puncak festival menghadirkan sejumlah kategori penghargaan yang menjadi penanda karakter tematik Balikpapan Film Festival. Beberapa di antaranya mencakup:
– Sun Bear Award untuk film terbaik yang mengangkat tema harmoni berkelanjutan;
– Manuntung Cultural Award untuk film bertema budaya atau pariwisata Balikpapan;
– Mahligai Award untuk penilaian teknis terbaik;
– Kelubut Award untuk film pendek karya sineas muda;
– Community Choice Award pilihan komunitas Kalimantan Timur;
– Matilda Award untuk kategori film dokumenter.
Kehadiran kategori tersebut memberikan ruang yang lebih spesifik bagi variasi tema dan pendekatan visual peserta.
Disporapar menyatakan akan melanjutkan program pembinaan bagi pelaku film dan memperluas jejaring kerja sama untuk mendukung keberlanjutan industri kreatif di Balikpapan.
Ratih berujar, agenda BFF menjadi salah satu sarana melihat perkembangan kualitas sineas lokal sekaligus memperkuat posisi Balikpapan di sektor ekonomi kreatif nasional.
“Kami ingin menyediakan ruang yang konsisten agar sineas Balikpapan dapat berkembang dan bersaing di tingkat nasional,” papar Ratih. (MI/Red/ ADV)
