Disporapar Tekankan Penguatan Ruang Publik untuk Kembangkan Seni Balikpapan

Oleh Redaktur pada 16 Nov 2025, 13:49 WIB
Disporapar Ratih

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Ratih Kusuma. (Nusplus)

NUSANTARAPLUS, BALIKPAPAN – Gelaran “Dua Kota Satu Panggung” yang mempertemukan ratusan seniman Balikpapan dan Palu pada Sabtu (15/11/2025) membuka kembali pembahasan lama tentang terbatasnya ruang ekspresi seni di Balikpapan.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disporapar), Ratih Kusuma, menyebut kegiatan ini menjadi pengingat, gerakan seni kota ini masih bertumpu pada inisiatif komunitas.

Di sisi lain, dukungan pemerintah perlu diperkuat agar ekosistem kreatif tidak berjalan setengah hati.

Ratih menilai antusiasme seniman dalam kegiatan itu menunjukkan bahwa kebutuhan ruang berkesenian jauh lebih besar daripada fasilitas yang tersedia.

Menurut Ratih, kolaborasi lintas kota menjadi bukti bahwa komunitas mampu bergerak. Namun dalam keberlanjutan tetap memerlukan arah kebijakan yang jelas.

“Kegiatan kemarin memperlihatkan bagaimana musik, tari, dan seni rupa bisa menyatu dalam satu panggung. Itu sinyal kuat bahwa ruang terbuka perlu terus dimaksimalkan,” jelasnya kepada awak media.

Ratih berujar, Disporapar telah menyiapkan beberapa lokasi publik sebagai ruang pertunjukan, seperti Taman Kepapai, Taman Bunga Ritrasi, dan BNTS.

Kendati demikian, ia menegaskan koordinasi lanjutan harus diperkuat agar ruang tersebut benar-benar berfungsi sebagai pusat aktivitas seni, bukan sekadar lokasi acara.

Kegiatan pada Sabtu kemarin menampilkan lebih dari seratus seniman dari Balikpapan dan Palu. Sebagian besar tampil dengan format sederhana, memanfaatkan peralatan yang disiapkan komunitas.

Bagi Ratih, hal tersebut menunjukkan kuatnya solidaritas gerakan seni, tetapi sekaligus memperlihatkan minimnya fasilitas resmi yang mendukung kegiatan berskala komunitas.

“Kolaborasi ini luar biasa karena tumbuh dari inisiatif seniman. Tahun depan akan digelar di Palu, dan perlu dibangun mekanisme kerja sama yang tidak hanya bergantung pada semangat swadaya,” ujarnya.

Disporapar, lanjutnya, telah meminta penyelenggara untuk mengajukan audiensi lanjutan agar konsep kegiatan tahun depan memiliki landasan lebih jelas.

Ia mengungkapkan bahwa agenda bersama lintas kota harus diarahkan pada penguatan jejaring dan penyediaan ruang publik yang lebih inklusif.

Disebutkannya, keberlanjutan kegiatan seni membutuhkan pemetaan potensi komunitas, ruang diskusi, dan akses atas fasilitas publik.

Ia pun mendukung agar kolaborasi dua kota tidak hanya berhenti sebagai pertunjukan musiman, tetapi menjadi rangkaian kegiatan yang mendorong lahirnya program seni berkelanjutan.

“Kegiatan seperti ini tidak cukup kalau hanya berhenti di panggung. Ekosistemnya perlu dijaga agar seniman punya ruang untuk berkembang,” tegasnya.

Selain itu, Disporapar akan memfasilitasi kunjungan sejumlah seniman ke IKM pada Senin mendatang untuk membuka peluang kolaborasi lintas sektor.

Kegiatan “Dua Kota Satu Panggung” menjadi momentum untuk menilai kapasitas komunitas seni dan mengukur kesiapan pemerintah daerah dalam menyediakan ruang yang memadai.

Ratih menekankan, peran pemerintah bukan sekadar hadir dalam acara, namun dapat memastikan akses yang lebih luas bagi seniman untuk berkarya. (Ml/Red/ ADV)

Tinggalkan Komentar