Jaga Mutu dan Higienitas, Dinkes Balikpapan Perketat Pelatihan Penjamah MBG

Oleh Redaksi+ pada 30 Nov 2025, 13:59 WIB
Alwiati 1

Kepala Dinas Kesehatan Balikpapan, Alwiati. (Nusplus)

NUSANTARAPLUS, BALIKPAPAN – Untuk menggenjot kualitas mutu dan higienitas menu Makan Bergizi Gratis, Dinas Kesehatan Balikpapan memperkuat pelatihan bagi penjamah makanan.

Terutama mereka yang bertugas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Balikpapan, Alwiati, langkah ini untuk memastikan setiap proses pengolahan makanan Program MBG sesuai standar higienitas dan keamanan pangan.

Apalagi, sebagian besar tenaga dapur bukan berasal dari latar belakang tenaga profesional di bidang kesehatan pangan.

Alwiati mengingatkan pelatihan harus dilakukan secara bertahap dengan jumlah peserta terbatas. Hal ini agar materi standar kebersihan, sanitasi, dan prosedur pengolahan dapat terserap secara optimal.

“Penjamah makanan di SPPG banyak yang berasal dari tenaga kerja dapur rumahan. Karena itu pelatihan tidak dapat dilakukan secara massal,” tegas Alwiati, saat dihubungi, akhir pekan. Ia berujar, jika peserta terlalu banyak, materi keamanan pangan tidak tersampaikan efektif.

Menurutnya pelatihan yang diberikan mencakup pencucian bahan makanan dan peralatan menggunakan air layak konsumsi, teknik pengolahan yang aman dan bebas kontaminasi silang.

Termasuk pengemasan dan penyimpanan makanan pada suhu sesuai standar, kebersihan diri penjamah makanan (universal precautions), dan prosedur penanganan limbah makanan

Peserta pelatihan terdiri dari juru masak, petugas pencuci peralatan, dan petugas kebersihan dapur.

Untuk menjamin kualitas, pelatihan dilakukan bersama BPOM dan Balai Karantina Kesehatan, serta difasilitasi puskesmas sebagai pendamping teknis di wilayah kerja masing-masing.

Dinkes juga menekankan pentingnya penggunaan air bersih yang memenuhi standar laboratorium. Air tanah berisiko terkontaminasi bakteri E.coli jika berada dekat septic tank atau kawasan padat penduduk.

Karena itu, sebut Alwiati, SPPG dianjurkan menggunakan air isi ulang bersertifikat SLHS, dengan uji laboratorium berkala.

Selain air, sanitasi ruang produksi menjadi salah satu fokus pengawasan, termasuk ventilasi, lantai dapur, meja kerja, serta pemisahan area bahan mentah dan makanan siap saji.

“Kalau makanan masih panas lalu langsung dikemas rapat, itu berpotensi meningkatkan risiko pembusukan. SOP detail seperti ini harus dipahami dan dijalankan,” ungkapnya.

Dinkes juga meminta seluruh penjamah makanan menjalani pemeriksaan kesehatan berkala, meliputi pemeriksaan rontgen untuk mendeteksi Tuberkulosis, pemeriksaan hepatitis, swab feses untuk memastikan bebas bakteri penyebab penyakit bawaan pangan.

Ia menekankan, kondisi kesehatan petugas menjadi perhatian karena mereka bekerja dalam durasi panjang, mulai dari memasak pada dini hari hingga proses pembersihan setelah distribusi.

“Apabila terdapat pergantian tenaga di dapur, SPPG diwajibkan segera melaporkan agar petugas baru dapat mengikuti pelatihan dan pemeriksaan ulang,” imbuhnya.

Beberapa SPPG juga masih membutuhkan pendampingan dalam penanganan limbah makanan. Limbah tidak boleh dibuang sembarangan karena dapat menimbulkan risiko kontaminasi dan pemanfaatan ulang oleh pihak yang tidak seharusnya.

Dinkes pun merekomendasikan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk penyusunan sistem pembuangan yang aman.

Sebagai informasi, program MBG di Balikpapan masih berjalan bertahap seiring peningkatan jumlah SPPG yang memenuhi syarat sanitasi dan keamanan pangan.

Alwiati berharap, dengan pelatihan penjamah makanan dapat menjaga kualitas makanan yang diterima siswa, sekaligus memastikan keamanan konsumsi pada setiap tahap distribusi. (Jml/ Red/ ADV)

Tinggalkan Komentar