Pemkot Balikpapan Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Puncak Hujan hingga 2026

Oleh Admin DB pada 04 Des 2025, 15:11 WIB
Wawali Bagus S

Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo. (Nusplus)

NUSANTARAPLUS, BALIKPAPAN –  Ancaman banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera beberapa hari terakhir menjadi warning bagi Kota Balikpapan untuk tidak lengah.

Memasuki puncak musim hujan yang diproyeksikan berlangsung hingga awal 2026, Pemerintah Kota memperketat pengawasan di titik-titik rawan bencana.

Situasi ini mendorong aparat setempat bergerak cepat sebelum curah hujan ekstrem benar-benar menekan kota. Kondisi geografis Balikpapan yang berbukit, dipadukan pertumbuhan penduduk dan pembangunan yang masif, membuat risiko bencana semakin sulit ditebak.

Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, memastikan Pemkot Balikpapan telah memiliki peta jalan mitigasi. Namun ia mengingatkan, rencana sebaik apa pun tidak efektif bila warga tidak mengutamakan kewaspadaan.

“Balikpapan kan sudah jelas bahwa kita punya master plan. Kemudian yang kedua, tidak bisa tidak, cuaca ekstrem di sini besar sekali. Sehingga curah hujannya bisa dua atau tiga kali lipat dari curah hujan normal,” ingat Wawali Bagus, Kamis (4/12/2025).

Ia menyebut intensitas hujan belakangan ini memberi tekanan tambahan pada sistem drainase kota yang selama ini bekerja di batas kapasitas.

Bagus meminta warga menghindari bantaran sungai serta lereng yang rentan longsor, terutama pada jam-jam ketika hujan turun tanpa jeda.

Ia juga mengimbau masyarakat menjaga lingkungan melalui kerja bakti rutin.

“Pertama kita mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada di daerah longsor. Jangan sampai ada di daerah-daerah yang rawan bencana,” pesan Bagus.

Minimnya ruang terbuka hijau membuat mitigasi bergeser pada penataan ruang dan penguatan drainase kota. Proyek bendungan pengendali banjir (bendali) menjadi ujung tombak strategi tersebut, meski manfaat penuh diperkirakan baru dirasakan tahun depan.

“Kemarin yang di belakang Das Ampal itu kita pancing dengan BTT. Mudah-mudahan ada anggaran dari pusat sama pemerintah provinsi,” tambah Bagus, menyinggung upaya mempercepat pembangunan.

BPBD Kota Balikpapan mencatat sepanjang Januari–November 2025 telah terjadi 7 banjir, 17 genangan, 8 longsor, dan 54 pergerakan tanah.

Angka ini menunjukkan tekanan hidrometeorologis di Balikpapan meningkat signifikan.

Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali, menilai kawasan utara seperti Gunungsari dan Prapatan membutuhkan pengawasan ekstra karena beririsan dengan aktivitas pembangunan yang padat.

“Pengawasan pembangunan di lereng bukit menjadi kunci agar tidak memperbesar risiko longsor dan genangan air,” tegas Usman di lokasi berbeda.

Ia menyebut perubahan kecil pada kontur tanah bisa memperbesar ancaman bencana ketika hujan ekstrem datang bertubi-tubi. Karena itu, BPBD juga memperkuat koordinasi dengan kelurahan untuk memonitor titik-titik rawan.

BPBD kini mendorong pembentukan kelompok siaga bencana dan pemetaan jalur evakuasi yang mudah dipahami warga.

“Masyarakat harus mengetahui apa yang dilakukan ketika hujan ekstrem turun dalam waktu lama,” kata Usman. Pemerintah berharap kolaborasi antara aparat, pengembang, dan warga dapat memperkuat ketangguhan kota menghadapi cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi. (Jun/Red/ ADV)

Tinggalkan Komentar