Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis, Wali Kota Rahmad Dorong Kolaborasi
Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas'ud. (Nusplus)
NUSANTARAPLUS, BALIKPAPAN – Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa berjalan maksimal dan tepat sasaran.
Dalam keterangannya, pada Jumat (28/11/2025), Rahmad Mas’ud mengungkapkan bahwa dari 64 target pelaksanaan, baru 10 yang terealisasi.
“Kita akan cukupkan agar sesuai target,” ujar Wali Kota dua periode tersebut.
Ia menekankan kolaborasi antara pemerintah daerah, TNI, dan Polri untuk memperlancar pelaksanaan di lapangan.
Rahmad juga memastikan harga bahan pangan mengikuti ketentuan dari pemerintah pusat, agar tidak memicu inflasi daerah.
Selain menjaga kestabilan harga, Wali Kota Rahmad mendorong penggunaan produk pangan lokal untuk mendukung ekonomi daerah.
“Produk dari Balikpapan dan Kalimantan Timur harus jadi prioritas,” lanjutnya.
Bagi Rahmad, program MBG bukan sekadar soal gizi anak sekolah, tapi simbol gotong royong dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat.
“Dengan sinergi semua pihak, Balikpapan bisa jadi contoh kota yang berhasil jalankan program nasional ini,” ujarnya.
Terkait MBG, Kepala Dinas Kesehatan Balikpapan, Alwiati, menjelaskan untuk menggenjot kualitas mutu dan higienitas menu Makan Bergizi Gratis, pihaknya memperkuat pelatihan bagi penjamah makanan.
Terutama mereka yang bertugas di dapur MBG.
Alwiati menilai langkah tersebut untuk memastikan setiap proses pengolahan makanan Program MBG sesuai standar higienitas dan keamanan pangan.
Apalagi, sebagian besar tenaga dapur bukan berasal dari latar belakang tenaga profesional di bidang kesehatan pangan.
Alwiati mengingatkan pelatihan harus dilakukan secara bertahap dengan jumlah peserta terbatas. Hal ini agar materi standar kebersihan, sanitasi, dan prosedur pengolahan dapat terserap secara optimal.
“Penjamah makanan di SPPG banyak yang berasal dari tenaga kerja dapur rumahan. Karena itu pelatihan tidak dapat dilakukan secara massal,” tegas Alwiati.
Ia menambahkan, jika peserta terlalu banyak, materi keamanan pangan tidak tersampaikan efektif.
Menurutnya pelatihan yang diberikan mencakup pencucian bahan makanan dan peralatan menggunakan air layak konsumsi, teknik pengolahan yang aman dan bebas kontaminasi silang.
Termasuk pengemasan dan penyimpanan makanan pada suhu sesuai standar, kebersihan diri penjamah makanan (universal precautions), dan prosedur penanganan limbah makanan
Peserta pelatihan terdiri dari juru masak, petugas pencuci peralatan, dan petugas kebersihan dapur.
Untuk menjamin kualitas, pelatihan dilakukan bersama BPOM dan Balai Karantina Kesehatan, serta difasilitasi puskesmas sebagai pendamping teknis di wilayah kerja masing-masing.
Dinkes juga menekankan pentingnya penggunaan air bersih yang memenuhi standar laboratorium. Air tanah berisiko terkontaminasi bakteri E.coli jika berada dekat septic tank atau kawasan padat penduduk.
Karena itu, sebut Alwiati, SPPG dianjurkan menggunakan air isi ulang bersertifikat SLHS, dengan uji laboratorium berkala. (Jun/ Red/ ADV)
