Tragedi Enam Anak Tewas di Kubangan, Wali Kota Balikpapan: Kelalaian Tak Boleh Dibiarkan

Oleh Redaksi+ pada 20 Nov 2025, 17:08 WIB
Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas'ud.

Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas'ud. (Nusplus)

NUSANTARAPLUS, BALIKPAPAN – Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud buka suara soal tragedi tewasnya enam anak di kubangan air di Kilometer 8, Kelurahan Graha Indah, Balikpapan Utara.

Ia menegaskan, dugaan adanya unsur kelalaian tidak boleh diabaikan, apalagi insiden ini terjadi di kawasan yang sedang berkembang dan padat pembangunan.

“Keselamatan warga harus jadi prioritas, terutama di wilayah yang tengah dalam proses pembangunan,” tegas Rahmad. Ditemui di Kantor Pemerintah Kota Balikpapan pada Kamis (20/11/2025), Rahmad berjanji terus memantau penanganan kasus ini.

Wali Kota menegaskan, jika nanti ditemukan pelanggaran, Pemerintah Kota tidak akan ragu mengambil langkah tegas. “Saya terus memantau perkembangan kasus ini untuk memastikan semuanya ditangani dengan benar. Jika ditemukan pelanggaran, pemerintah akan melakukan penindakan,” tegasnya.

Rahmad menyebut sudah menginstruksikan tim teknis dan aparat terkait untuk mengumpulkan data selengkap mungkin.

Informasi awal yang masuk ke pemerintah dinilai masih terlalu umum, sehingga dibutuhkan penggalian detil mulai lokasi pasti, kronologi kejadian, hingga faktor-faktor yang memicu insiden nahas tersebut.

“Ini harus dipastikan jelas, supaya penanganannya tepat dan tidak hanya reaktif,” katanya.

Pemkot Balikpapan juga intens berkoordinasi dengan pihak-pihak yang terkait dengan kawasan kubangan tersebut. Salah satunya pengembang Grand City yang tengah membangun perumahan di sekitar lokasi.

Rahmad menekankan, semua pihak yang memiliki kewenangan ataupun aktivitas di area itu wajib menyampaikan keterangan terbuka.

“Semua yang memiliki tanggung jawab atas wilayah itu harus memberikan keterangan jelas berdasarkan fakta di lapangan,” ujarnya.

Di tengah sorotan publik terhadap pemerintah dan pengembang, Rahmad tak lupa menyampaikan duka atas meninggalnya enam anak tersebut.

“Atas nama Pemerintah Kota Balikpapan, saya menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga para korban mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT,” ucapnya.

Ia juga mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan menghadapi cobaan berat ini.

Dari pihak pengembang, manajemen PT Sinar Mas Wisesa selaku pengembang kawasan Grand City menyatakan telah menyalurkan santunan kepada keluarga korban.

Santunan itu diserahkan di Kantor Kecamatan Balikpapan Utara pada Rabu (19/11), disaksikan camat, lurah, ketua RT, dan keluarga korban.

“Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Santunan telah kami serahkan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kepedulian kami atas musibah ini,” kata Samuel Piratno, Kepala Bagian Pengadaan Lahan, Perizinan, dan Keamanan Sinar Mas Wisesa di Kalimantan.

Samuel menambahkan, perusahaan juga langsung memasang pagar pengaman sepanjang 120 meter untuk menutup akses menuju kubangan.

Spanduk larangan dipasang di beberapa titik agar warga mendapat peringatan yang lebih jelas ketika mendekati area berbahaya tersebut.

“Ini tindakan awal yang bisa kami lakukan segera untuk memastikan tidak ada lagi kejadian serupa,” ujarnya. Soal kemungkinan penutupan kubangan secara permanen, Samuel menjelaskan perusahaan tidak bisa bertindak sepihak karena lahan itu bukan milik Sinar Mas Land.

Penanganan lanjutan harus dibicarakan bersama pemilik lahan dan pemerintah. “Kami siap menutup kubangan tersebut, namun prosedurnya harus sesuai aturan dan kewenangan,” katanya.

Ia menegaskan, Sinar Mas berkomitmen terus berkoordinasi dengan Pemkot Balikpapan, pemilik lahan, dan pihak terkait lain agar lokasi itu segera ditangani tuntas. Tidak lagi menjadi ancaman bagi warga.

Duka Besar bagi Balikpapan

Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, menyebut peristiwa ini sebagai kabar duka besar bagi Kota Balikpapan. Ia menegaskan, insiden tenggelam dengan korban anak-anak sebanyak ini belum pernah terjadi sebelumnya di kota tersebut.

“Ini kejadian sangat luar biasa karena belum pernah ada kecelakaan atau musibah tenggelam langsung enam anak,” ujar Bagus kepada awak media, Selasa (18/11/2025) di hotel Gran Senyiur.

Ia menekankan, kawasan permukiman seharusnya menjadi ruang yang aman bagi anak-anak untuk beraktivitas. Tragedi ini, menurutnya, menjadi peringatan keras bahwa aspek keselamatan di sekitar lingkungan hunian masih sering terabaikan.

Dari pantauan awal di lapangan, Bagus menilai ada kesalahan mendasar dalam pengelolaan area kubangan yang menjadi lokasi kejadian.

Ia menyoroti tak adanya pagar atau penutup akses di sekitar kubangan, padahal lokasinya berdampingan langsung dengan perumahan dan pemukiman penduduk.

Kondisi tersebut membuka peluang anak-anak masuk dan bermain di area yang jelas berbahaya, terutama saat kubangan terisi air dalam.

Bagus juga mengakui melihat beberapa kubangan dan kolam lain di sekitar lokasi yang dinilai berpotensi membahayakan keselamatan warga.

Menurutnya, setiap proses pematangan atau pengupasan lahan seharusnya dilakukan secara tuntas dan terencana. Area yang meninggalkan cekungan hingga menjadi kubangan air menghadirkan risiko baru.

Ia mengingatkan agar kejadian serupa tidak dianggap sepele dan harus menjadi bahan evaluasi bagi para pemilik lahan dan pengembang. (Jun/Red/ ADV)

Tinggalkan Komentar