EKONOMI+

Potensi Ekosistem Blue Carbon Kaltim Masih Luas

potensi blue carbon kaltim
Ekosistem blue carbon seperti terumbu karang dan lamun di lautan. (Foto: mongabay indonesia).

Potensi ekosistem blue carbon lautan Kaltim masih luas. Untuk menekan emisi karbon, DKP Kaltim berupaya terus melestarikan ekosistem blue carbon di wilayah pesisir.

Emisi karbon di lautan dapat berdampak pada kerusakan ekosistem laut. Semakin banyak emisi karbon yang diserap oleh laut, maka akan menyebabkan kadar asam semakin tinggi dan merusak berbagai ekosistem laut. Sehingga, berbagai hewan laut akan sulit untuk bertahan hidup.

Untuk mencegah terjadinya emisi karbon tersebut, Pemprov Kaltim melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim, terus berupaya untuk melestarikan ekosistem blue carbon yakni terumbu karang dan lamun di wilayah pesisir Kaltim.

Secara umum, Indonesia memiliki 70 persen luas lautan yang berpotensi besar dalam menyerap karbon. Untuk Wilayah Kaltim memiliki luas perairan laut sekitar 3,76 juta hektare atau sekitar 51,8 persen dari total wilayah pesisir.

Sub Koordinator Jasa Kelautan DPK Kaltim, Vito Yuwono mengatakan potensi konservasi blue karbon di wilayah pesisir Kaltim masih besar dan berpotensi untuk dilestarikan lebih banyak lagi.

“Potensinya masih sangat besar. Terutama di Berau dan Bontang serta wilayah lainnya yang masuk pesisir,” ungkapnya.

Secara umum, Indonesia memiliki 70 persen luas lautan yang berpotensi besar dalam menyerap karbon dan 20 persen daratan dari luas tersebut dapat menjadi konservasi penyerapan karbon.

Berkaitan dengan potensi mangrove sebagai sumber karbon di darat, terumbu karang dan lamun mampu memberikan kontribusi signifikan dalam menekan emisi karbon di lautan.

“Blue carbon daerah darat dihitung berdasarkan ketersediaan mangrove. kalau di laut itu dihitung dari terumbu karang dan lamun,” terangnya.

Meskipun perhitungan potensi blue carbon dari mangrove telah ditentukan. Namun, perhitungan potensi terumbu karang dan lamun di lautan masih sulit dilakukan.

“Potensi sudah bisa diperhitungkan tapi masih dalam tahap proses seperti terumbu karang kemudian lamunnya,” pungkasnya.

Harapannya potensi ekosistem blue carbon di lautan wilayah pesisir dapat dimanfaatkan dengan tepat. Sehingga, dapat memberikan kontribusi positif untuk menekan emisi karbon di lautan. (*/dmy/nus)

Comments

POPULER

To Top